:: 62 8000 xxx mading@mading.ciuss
Info Sekolah
Selasa, 16 Apr 2024
  • Tema Mading dapat menampilkan informasi dalam text berjalan
  • Tema Mading dapat menampilkan informasi dalam text berjalan
9 Oktober 2022

Revolusi metode Qiroati menjadi Yanbu’a

Ming, 9 Oktober 2022 Dibaca 48x Kabar Darussalam / kegiatan darussalam

Blokagung-pengarahan metodelogi Yanbu’a dilaksanakan pada hari selasa (04\10) kemarin. Kegiatan tersebut berlangsung di ruang Auditorium Mukhtar Syafa’at (A.04). Berangkat dari Pondok Putri yang akan pindah metodelogi yang semula Qiroati menjadi Yanbu’a para pembimbing masih bingung bagaimana konsep pembelajaran metode yanbu’a tersebut. Oleh karenannya, ketua lembaga LPQ mengundang KH. Imam Baghowi Burhan 2 hari sebelum acara agar tahu bagaimana standar pembelajaran metode Yanbu’a. Kegiatan tersebut terbagi menjadi dua jalsah, pelaksanaan jalsah pertama dimulai pagi hari yang dikhususkan kepada keluarga ndalem, sedangkan jalsah kedua diperuntukan pada seluruh pembimbing putra maupun putri.
Ketika acara berlangsung KH. Imam Baghowi Burhan menceritakan sejarah metode yanbu’a terbentuk. Beliau juga memaparkan keterangan dari buku Bimbingan belajar Thoriqoh Yanbu’a dan menjelaskan bagaimana metode mengajar yang baik. “seng apik belajar ndamel pemula niku mulai jilid 1, paling efektif mengembangkan metode itu nderes 1 halaman kalo sudah lancar tambah lagi sampai minimal 5 halaman, lantas ditunjuk satu-persatu untuk membaca, atau juga dengan ngaji bersama, dan baca bersama.” Beliau juga menambahkan “yanbu’a itu InsyaAllah suatu Thoriqoh pembelajaran yang tersambung kepada baginda agung Nabi Muhammad SAW, Jadi sanadnya jelas.” Kata beliau saat acara berlangsung.
Dalam akhir acara Nyai Hj. Handariyatul Masruroh sempat memberikan sambutan “yang ditoto dipondok itu ternyata bukan muridnya saja. Akan tetapi gurunya juga. Intinya dalam mengajar harus ikhlas, sabar, dan senang. Kedepannya saya ingin pembelajaran Al-Qur’an harus lebih baik.” Beliau juga mengatakan alasan beralihnya metode. Dikarenakan beliau menginginkan metode yang bisa dijangkau, dijalani, dan juga diterapkan oleh pondok putri. Kemudian beliau juga berharap kepada ketua lembaga untuk lebih mempertimbang lagi dalam memilih pembimbing yang lebih kompeten.
Kendala yang dialami salah satunya ialah ketersediaan tempat yang tidak memadai karena banyaknya pembimbing membuat tempat tidak muat.(VIKR)