:: 62 8000 xxx mading@mading.ciuss
Info Sekolah
Senin, 20 Mei 2024
  • Tema Mading dapat menampilkan informasi dalam text berjalan
  • Tema Mading dapat menampilkan informasi dalam text berjalan
26 Juni 2016

Barokah Al-Qur’an, Bisa Ibadah Umroh

Ming, 26 Juni 2016 Dibaca 17x Kabar Darussalam

 

Menjadi suatu kebanggaan besar bagi pondok pesantren Darussalam. Karena salah satu santrinya telah melaksanakan ibadah umroh pada tanggal 2 sampai 18 januari 2016. Berkat prestasinya menjadi juara 2 ketika mengikuti musabaqoh tilawatil qur’an di IAIN Surabaya. Sebut saja namanya Azidni Ilma, Seorang santri yang setiap harinya menjadi muadzin di pondok pesantren Darussalam, Blokagung. Merasa bangga dan bahagia, karena apa yang telah Di impikan selama ini telah terwujud.

Ketika reporter kami kerumahnya Langsung disambut dengan hangat oleh kedua orang tuanya. Dan kamipun dipersilahkan masuk, kemudian memulai perbincangan mengenai bagaimana keadaan tanah suci Makah dan Madinah.

Waktu di Madinah dia mendapat cobaan berupa penyakit bisul. tak disangka , dirumahpun salah seorang anggota keluarganya yaitu sang ayah juga dititipi penyakit tersebut. walaupun dengan keadaan kaki yang membesar. ia tetap saja pergi ke Roudhoh. Sebuah tempat yang terletak diantara rumah rosululloh dan mimbarnya.

Perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam setengah. Sampai disana dia berebut tempat sampai sampai berdesakan dengan orang lain demi mendapatkan maqom mustajabah. Ajaibnya, cobaan yang ia dapatkan itu, sama sekali tidak terasa sakit.

Azid (panggilan akrab Azidni Ilma ketika dirumah) tinggal di Desa Gambor Kecamatan Singojuruh Kabupaten Banyuwangi. Tempat yang cukup jauh jika di tempuh dari pondok pesantren darussalam. Kita kesana bisa mengendarai bus atau kendaraan lainnya. lewat jalur Genteng Rogojampi kurang lebih 1 jam.

Lelaki dengan postur tubuh kurus dan agak tinggi ini sudah lama menekuni bakatnya sebagai seorang qori’. Yaitu, Sejak duduk dibangku SD.  Dulu, ketika di rumah Dia belajar langsung kepada ibunya sendiri setiap hari. Metode yang diajarkanpun tidak berbeda jauh dengan yang di pondok. Hanya saja ketekunan dan kemauan keras yang membedakanya.

Selain latihan terus, dia juga menjaga pola makan setiap hari agar tidak mempengaruhi suara dan juga kesehatannya. Bisa dengan minum jamu seperti kuningnya telor campur madu, jeruk nipis campur kecap, gurah, dan masih banyak lagi cara yang lainnya. Semua itu adalah alat pembantu, yang terpenting adalah latihan dengan istiqomah.

Menurut pengakuan salah satu pengurus Jamiyatul Qurro’ Wal Huffadz menjaga pola makan, minum jamu jamuan Itu hanyalah pembantu, yang paling utama adalah latihan terus menerus dengan istiqomah.”kang, ngendikone kyai majid sangking jember. seng penting iki latihan kanti istiqomah. Lek enek panganan dipangan ae, kui rizeki jenenge ”. ujarnya.

Jam’iyyatul Qurro’ Wal Huffadz merupakan organisasi di pondok pesantren Darussalam yang membidangi tilawatil qur’an. Sebagai salah satu ekstra kulikuler tertua setelah Maziyatul Fata. Jumlah santri yang mengikutinya pun cukup banyak kurang lebih 100 santri yang berminat. Kegiatan rutinan yang dilaksanakan, setiap malam jum’at dan selasa sore di Madrasah Ruang B.04.

Dan juga Banyak sekali agenda tambahan lainnya. seperti kegiatan harian, bulanan dan tahunan. Kalau kegiatan harian, setiap sore mejelang maghrib para anggota termasuk pengurus, melantunkan ayat suci alqur’an (qiro’ah)di masjid sebelum adzan. Untuk kegiatan bulanan, setiap pengajian ahad legi para pengurus mendelegasikan anggotanya untuk mengisi acara pembacaan ayat suci alqur’an. Dan kegiatan tahunannya organisasi ini mengadakan diklat yang langsung di tutori oleh Qori’-qori’ nasional seperti: Ust. Saiful Munir, Ust. Abdul Majid, Dll.

Organisasi ini juga pernah menerbitkan buku panduan Qiro’ah, mungkin 15X10 cm besarnya. Pembelinya pun lumayan banyak sampai kehabisan stok. Di karenakan besarnya keinginan para santri untuk memperdalaminya.

banyak sekali manfaat yang diperoleh dari kegiatan ini.  Selain bisa membaca al-qur’an dengan lagu lagu tertentu, kita juga bisa menghayati maknanya sedikit demi sedikit, insyaalloh.

Sebagai seorang santri kita harus siap ketika dibutuhkan dimasyarakat. Selain bisa baca kitab, memahaminya dan mengamalkannya. Kita juga harus mengembangkan bakat yang kita miliki masing masing. Agar menjadi santri yang multi talenta.(aam/hmy)