:: 62 8000 xxx mading@mading.ciuss
Info Sekolah
Selasa, 16 Apr 2024
  • Tema Mading dapat menampilkan informasi dalam text berjalan
  • Tema Mading dapat menampilkan informasi dalam text berjalan
4 Januari 2014

WAHABI DALAM BINGKAIAN BIDAH

Sab, 4 Januari 2014 Dibaca 7x Dawuh Masyasikh Blokagung

div align=centerWAHABI DALAM BINGKAIAN BIDrsquoAHnbspdivdiv align=centernbspdivdiv align=centerOleh : Ali MahsundivDalam Al-Qurrsquoan Allah berfirman lakum dinukum waliyaddinrsquorsquo_ bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Dalam ayat ini menunjukan bahwa manusia dianjurkan untuk toleransi antar sesama dan tidak boleh memaksakan dalam sebuah agama atau keyakinan akan tetapi dalam kalimah bagiku agamaku menunjukan bahwa Allah mengajarkan umat islam agar punya prinsip hidup fanatik dalam memegang agamanya sehingga tidak terombang ambing dan bercampur baur dengan pemahaman di luar islam yang bertentangan dangan aturan-aturan dalam islam itu sendiri. Agama islam mempunyai dua pegangan dalam prinsip hidup yang wajib dijadikan pedoman yaitu al-Qurrsquoan dan Hadist yang diuraikan oleh ulama-ulama Salaf Solih karena memahami keduanya tidak akan pernah bisa utuh dan benar kecuali lewat ahlinya.br Termaktub dalam sebuah hadist hasan sohih Nabi Muhammad SAW bersabda Dan jauhilah oleh kamu akan perkara-perkara bidrsquoah (yang baru diada-adakan) kerana sesungguhnya tiap-tiap bidrsquoah itu adalah sesat. (HR Abu Daud dan al-Tirmidhi) Dan hadis sohih Barang siapa yang mengada-adakan dalam (urusan) agama ini suatu pekerjaan yang tiada perintah kami padanya maka (yang diada-adakan itu) tertolak. (Hadis Bukhari Muslim).br Berangkat dari kedua hadis di atas dan hadis-hadis yang lain yang semakna tentang masalah bidrsquoah menimbulkan perpecahan yang sangat tajam di antara kelompok umat islam saat ini dan tidak dapat dipungkiri bahwa kelompok seperti contoh Wahabi misalnya tidak jarang dari mereka baik dalam dunia maya atau dalam dunia nyata mensesatkan amalan Kaum Nahdiyin atau Sunni dan bahkan sampai mensirikan semacam yasinan tahlilan maulidan dll adalah berdalih dari hadis-hadis bidrsquoah tersebut. Seperti halnya tentang Tawasul dan Istigosah yang biasa dilakukan ulamarsquo Sunni lintas Mazdhab tidak luput dari serangan mereka Dan tentang siapakah itu kelompok wahabi sudah dipaparkan pada edisi bulan lalu.br Untuk membuktikan hal tersebut kami mencoba sedikit menukil dari kitab-kitab mereka ulama akir abad ini dari negara arab saudi sebagai berikut :br 1575160416051606157816021609 16051606 16011578157516081609 1575160416011608158615751606 (4 7)br 24 1600 16071604 1610158016081586 15711606 1606160216081604 16011610 157516041583159315751569 : 15751604160416071605 1576158015751607 1606157616101603 1567 16041575 1610158016081586 157516041578160815871604 1576158015751607 15751604160615761610 158916041609 1575160416041607 1593160416101607 1608158716041605 160816041575 1576158015751607 15941610158516071563 160415711606 160715841575 15761583159315771548 16041575 1583160416101604 15931604161016071548 160816071608 15751604158815851603 .br 16051580160516081593 16011578157516081609 160815851587157515741604 157515761606 159315791610160516101606 (2 2731548 157615781585160216101605 1575160415881575160516041577 1570160416101575)br 1608157116051575 15751604160215871605 157516041579157516061610 : 160116071608 157516041578160815871604 1576158416081575157816071605: 1601160715841575 160416101587 15761588158515931610 1563 15761604 16071608 16051606 15751604157615831593 16051606 160815801607 1548 1608160616081593 16051606 15751604158815851603 16051606 160815801607 157015821585. 160116071608 16051606 157516041576158315931563 1604157116061607 16041605 161016031606 1605159315851608160115751611 16011610 159316071583 15751604160615761610 -1548 1608157115891581157515761607. 160816071608 16051606 15751604158815851603 160415711606 16031604 16011610 157116051585 16051606 157516041571160516081585 157116061607 158715761576 160816041605 161016031606 15871576157615751611 158815851593161015751611 1601157316061607 16021583 157115781609 16061608159315751611 16051606 15711606160815751593 15751604158815851603 1563 16051606 15751593157816021583 1608159316041609 160715841575 16041575 1610158016081586 157516041578160815871604 1576158415751578 15751604160615761610 – 158916041609 1575160416041607 1593160416101607 1608158716041605 – 160515791604 15711606 1610160216081604 : 15711587157116041603 15761606157616101603 1605158116051583 – br 16051580160516081593 16011578157516081609 1608 160516021575160415751578 157515761606 157615751586 (4 323)br 157516041580160815751576 : 157516041578160815871604 1576158015751607 1601160415751606 15711608 15761576158516031577 1601160415751606 15711608 157615811602 1601160415751606 1576158315931577 16081604161015871578 16051606 15751604158815851603 1548 1601157315841575 160215751604 : 15751604160416071605 157316061610 15711587157116041603 1576158015751607 1571160615761610157515741603 15711608 1576158015751607 1608160416101603 1601160415751606 15711608 15761593157615831603 1601160415751606 15711608 157615811602 1601160415751606 15711608 1576158516031577 1601160415751606 1601158416041603 16041575 1610158016081586 160816071608 16051606 15751604157615831593 160816051606 16081587157515741604 15751604158815851603br Dalam 3 kitab di atas Imam Bin Baz (w. 13 Mei 1999 M) Ibnu Usaimin (w. 10 Januari 2001) menganggap Tawasul dengan kedudukan Nabi di sisi Allah adalah bidrsquoah dan jalan menuju sirik dan bahkan Imam al Fauzan (L. thn 1933 M) menganggapnya sebagai sirik.br Padahal tiada ulama dari qurun ke qurun dan waktu kewaktu yang melarang Tawasul dan Istigosah sehingga datang imam ibnu taimiah yang mengingkari hal tersebut dan menyelisihi ulama-ulama salaf solih dan diteruskan oleh kelompok Wahabi masakini yang semakin jauh keluar dari batas-batas Syarrsquoi dalam menyikapinya seperti yang bisa kita lihat dalam kitab-kitab mereka dan dalam webset-webset mereka. br Dan masalah penyimpangan Imam Ibnu Taimiah bisa kita lihat penuturan ulama yang sequrun dengannya seperti yang di jelaskan imam Tazzudin Assubki (W 771 H) dalam kitabnya Assyifa Saqom dan lebih lanjut lagi juga bisa kita lihat di kitab Ad-Durar al-Kacircminah Fi Arsquoyan al-Mirsquoah ats-Tsaminah Karangan imam Ibnu Hajar al Asqolani (W. 852 H) al Fatawa al Hadisiyah karangan Ibnu Hajar al Haitami (w. 974 h) risalah Ahlusunnah Wal Jamaah karangan Syeh Hasyim Asrsquoari (pendiri NU) dan masih banyak lagi dari kitab-kitab ulama yang lain. Berikut dibawah ini sedikit kami nukilkan dari kitabnya Imam Tazzudin Assubki yang membantah Imam Ibnu Taimiah.br 15751604157815751580 157516041587157616031610 : 1575159316041605 157116061607 1610158016081586 16081610158115871606 157516041578160815871604 1608157516041575158715781594157515791577 1608157516041578158816011593 157615751604160615761610 158916041609 1575160416041607 1593160416101607 (1608157016041607) 1608158716041605 157316041609 158515761607 158715761581157516061607 160815781593157516041609 1548 16081580160815751586 158416041603 16081581158716061607 16051606 157516041571160516081585 15751604160515931604160816051577 160416031604 15841610 158316101606 1548 15751604160515931585160816011577 16051606 160115931604 15751604157116061576161015751569 160815751604160515851587160416101606 1548 16081587161015851577 15751604158716041601 15751604158915751604158116101606 1548 16081575160415931604160515751569 1608157516041593160815751605 16051606 15751604160515871604160516101606 1548 160816041605 1610160616031585 158416041603 157115811583 16051606 157116071604 1575160415711583161015751606 1548 160816041575 158716051593 15761607 16011610 158616051606 16051606 1575160415711586160515751606 1548 158115781609 158015751569 157515761606 15781610160516101577 1548 16011578160316041605 16011610 158416041603 15761603160415751605 1610160415761587 160116101607 159316041609 1575160415901593160115751569 1575160415711594160515751585 1548 160815751576157815831593 16051575 16041605 16101615158715761602 1573160416101607 16011610 158715751569 1575160415711593158915751585 1548 br ( sifa as-Saqom hal 357 darul kutub al-lsquoIlmiah Bairut Libanon)sedangkan contoh-contoh redaksi tawasul dengan kedudukan Nabi dapat kita lihat pada kitab-kitab mursquotabar mashur golongan Sunni salah satu contohnya dapat kita lihat pada kitab Irsquoanantutolibin juz 4 ucapan Syeh Ibrohim al Bajuri dalam kitabnya Kifayatul Awam dalam kitab Hawasy Sarwani Nihayatuz Zain Tafsir Ruhul Marsquoani dll dan juga redaksi tawasul semacam itu juga sudah dicontohkan dalam hadis ketika Nabi mengajari orang yang buta tentang cara Tawasul.br Dan dalam kitab fiqih lintas madzhab dan cenderung netral lsquorsquokarena kitab ini hanya memaparkan pendapat-pendapat dari lintas madzhabrsquorsquo Al-Mausursquoah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah juz 15 hal 151 (fersi maktabah Syamila) yang ditulis oleh Kementrian Wakaf dan Urusan Agama negara Kuwait sebanyak 45 juz di terbitkan Th 1983 menyatakan ada 3 pendapat tentang tawasul sama Kedudukan Nabi dan orang- orang soleh ahli ilmu yang sudah meninggal sebagai berikut.br 1.bahwa Jumhur ulama dari 4 Madhab membolehkan Tawasul dengan Redaksi 157316061610 15711587157116041603 15761606157616101603 15711608 1576158015751607 1606157616101603 15711608 157615811602 1606157616101603 dan bahkan banyak riwayat dari ulama-ulama abad-abad awal yang melakukan Istigostah dan Tawasul seperti yang diriwayatkan Imam Malik (L. 80 H) Imam Nawawi Al-Qodi Iyad dll.br 2.Beberapa ulama dari kalangan hanafiah ada yang memakruhkan dengan redaksi tersebut walau Imam Abu Hanifah sendiri tidak secara tegas melarang dengan redaksi 157316061610 15711587157116041603 1576158015751607 1606157616101603 15711608 157615811602 1606157616101603 tapi dengan hanya mengambil sebuah kesimpulan dari ucapan Imam Hanafi lsquorsquo 16051575 160815851583 15931606 157115761610 15811606161016011577 – 16011610 15851608157516101577 157115761610 1610160815871601 – 1602160816041607 : 16041575 16101606157615941610 1604157115811583 15711606 1610158315931608 1575160416041607 157316041575 15761607 rsquorsquo sehingga mangambil hukum makruh seperti yang difatwakan Imam Ibnu Abidin (ulama Hanafiah) lahir di Damaskus Syiria pada tahun 1198 H atau 1714 M br 3.Imam Ibnu Taimiah dan sebagian ulamarsquo akhir dari kalangan Madhab Hambali Tanpa ada keterangan siapa contoh ulama-ulama tersebut yang melarang dan mengingkari Kebolehan Tawasul dan Istigostah dengan jah nabi setelah wafatnya beliau dan orang-orang soleh yang sudah wafat. Dan mungkin saja itu adalah ulama-ulama Wahabi karna sebagian besar pengikut Wahabi di Arab Saudi adalah bermadhab Hambali dan juga banyak yang merujuk pada kitabnya Imam Ibnu Taimiah. Dan masalah Imam Ibnu Taimiah sudah kami singgung sedikit di atas.br Dari sini dapat kita lihat bahwa mayoritas ulama ahli ilmu lintas Madhab membolehkan dan mengamalkan Tawasul dan Istigosah dan hanya segelintir ulama yang mengingkarinya dan itupun hanya Imam Ibnu Taimiah seorang yang dimana mayoritas ulama dengan terang-terangan menolak dan membantah beberapa pemikiranya yang di anggap sangat nyleneh bukan hanya satu dua tapi berpuluh puluh ulamarsquo kenamaan menulis karangan yang membantahnya di kalangan Sunni sebuah perbedaan itu sebenarnya sebuah hal yang lumrah seperti imam malik dan imam Safirsquoi juga ada perbedaan Imam Asrsquoary dan Imam Maturidi juga ada perbedaan dan semua kalangan sama-sama mengakui kebenaranya dan jika ada sebuah perbedaan beserta banyaknya ulama yang membantah secara terang terangan perbedaan itu menunjukan pemikiran tersebut dirasa telah keluar jauh dari Jumhur Ulama Ahli Ilmu yang perlu disikapi dengan serius karna telah membahayakan.br Dan sejauh ini sepak terjang wahabi di indonesia sudah semakin menyebar luas mereka mengharamkan tahlilan dibarsquoan yasinan kenduri kematian dll mereka mengharamkan tahlilan dibarsquoan yasinan kenduri kematian dll dan Imam Nawawi dalam sarah sohih muslim menjelaskan kata umum yang dikususkan artinya secara golibnya. br Dan dalam hal ibadah itu juga dibagi dua. Ada yang Qosiroh dan Goiru Qosiroh untuk ibadah Qosiroh yang dibatasi seperti solat duhur ada 4 rakaat maka tidak boleh diada-adakan menjadi 5 rokaat. Dan juga pada contoh sujud dalam Syarirsquoat sujud itu hanya ada tiga macam sujud solat tilawah syukur. Maka apa bila jika ada seseorang yang sujud tanpa sebab 3 itu misalnya dan hanya bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah maka itu juga termasuk bidrsquoah yang diharamkan. Karna secara dzatnya sujud sudah merupakan sebuah ibadah jadi harus ada tuntunan dan tidak boleh diada-adakan br Lain halnya jika yang bersangkutan dengan ibadah goiru qosiroh semisal sodaqoh tidak ada batasan yang terperinci sehingga kita boleh sodaqoh kapanpun dimanapun dan berapapun walau tidak ada contohnya langsung dari nabi boleh-boleh saja selama tidak ada perkara yang diharamkan didalamnya.br Begitu juga semisal Yasinan atau Tahlilan yang dimana disitu isinya berupa dzikir dan dorsquoa yang dimana Nabi tidak pernah membatasi tentang waktu banyak dan tempat untuk berdzikir dan berdorsquoa jadi boleh dimanapun dan kapanpun seperti semisal bertepatan dengan hari ke 1-7 orang meninggal dunia selama tidak ada perkara-perkara haram didalamnya dan tidak ada keyakinan bahwa nabi mensunahkan di hari-hari itu. Karna berkumpul-kumpul dan melaksanakan di hari itu bukan ibadah secara dzatnya disitu hanyalah sebuah prakarsa manusia dan dzat ibadahnya adalah bedikir yang semua itu sudah ada tuntunan.br Begitu juga seperti contoh bidrsquoah yang sudah mentradisi adalah bersalaman sehabis sholat berjamaah sejalan dengan qoul Imam Nawawi dalam kitab Almajmursquo bahwa hal tersebut adalah bidrsquoah disebabkan tidak ada tuntunan dari Nabi akan tetapi bidrsquoah yang boleh karena melihat keumuman hadis Nabi yang mensunahkan bersalaman ketika bertemu saudaranya. Qoyid salaman setiap habis solat jamaah sehingga menjadi adatrsquorsquo itulah bidrsquoah. Akan tetapi boleh saja karna tidak termasuk ibadah Qosiroh tidak ada perkara haraman di dalamnya dan tidak ada pelarangan secara kususbr Jadi boleh-boleh saja dalam ibadah Goiru Qosiroh kecuali ada dalil kusus yang melaranya seperti contoh solat sunnah mutlak boleh dilakuakn kapanpun kecuali pada saat terbitnya matahari tidak boleh dilakukan sebab ada dalil kusus yang melarang solat pada waktu terbitnya matahari (ada lima waktu makruh tahrim). Untuk membahas lebih lanjut tentang masalah bidrsquoah dan tahlil mungkin perlu dibahas di edisi kusus untuk menguraikanya. Wallahu lsquoalam.nbsp1)