Untuk membuktikan
kepada wali santri keseluruhan peserta layak menjadi peserta wisuda. Pada acara
itu diadakan ikhtibar yang diikuti
seluruh wisudawan. Agus Alaika Nasrulloh memberikan pertanyaan kepada Khotimin bil Ghoib. Sedangkan Khotimin bin Nadhri di uji coba oleh Ny.
Hj. Handariatul Masruroh. Setelah itu pengarahan dari pembina Lajnah Muroqobah Yanbu’a (LMY) KH. Imam
Baghowi Burhan.
Dalam acara
besar itu, ustadz Muhammad Fahrur Rozi, S. Pd menjadi Ketua Panitia. Namun,
beliau tidak sendirian. Dengan dibantu 40 orang yang masing-masing membawa
bantuan 10 orang putra dan putri. Sehingga keseluruhan panitia mencapai 100
orang lebih. Tak hanya itu, mereka juga dibantu 20 panitia putri. Uniknya
mereka berseragam baju hitam bercampur pink. Diantara mereka ada panitia khusus
yang terdiri 9 orang yang dinamakan Nine
Crew.
Sekitar 700
wali santri yang hadir dalam acara yang berlangsung setengah hari itu. Selain
mengundang wali santri, guru Taman Pendidikan
Al Qur’an (TPQ) sekitar pesantren turut diundang. Yang tergabung sebagai
tamu Very Importent Person (VIP).
Juga mengundang tamu Very Very Importent
Person (VVIP). Didalamnya adalah dewan pengasuh dan koordinator yanbu’a.
Dibandingkan
tahun lalu, acara wisuda ini agak berbeda. Pasalnya seluruh peserta yang ada
di pentas, mengenakan ciri khas pondok
pesantren. Yaitu seragam almamater Madrasah Diniyyah Al Amiriyyah (MADINA). Tujuan
tidak adanya pembuatan seragam ini supaya menunjukan kepada yang hadir
darussalam memiliki ciri khas sendiri. Kalau songkok yang dikenakan tetap
memakai seragam songkok yang telah dipesan sebelumnya.
Sesaat
setelah acara wisuda selesai, seluruh panitia yang turut ambil bagian pada
acara itu sangat bersyukur. Pasalnya acara yang sudah 13 kali dilaksanakan tersebut
berjalan sukses. Meskipun ada beberapa kendala yang menghampiri. “Alhamdulillah selesai dan sukses. Juga
lancar meskipun banyak halangan, Serta capek namun senang”. Tutur salah satu
pembimbing MBAD kepada reporter MedIS.
Kedepannya
mereka berharap peserta yang sudah wisuda itu melanjutkan ke tahfidz juz 30 atau Amtsilati. “Harapannya semoga anak-anak semakin semangat dan bisa
melanjutkan ke tahfidz juz 30 atau Amstsilati” tambahnya. Selain itu, dari
wali santri sendiri sangat senang anak mereka bisa turut serta pada wisuda
tersebut. Salah satunya yaitu bapak Muhammad Bilal. Beliau rela jauh-jauh dari
Muncar untuk melihat anaknya wisuda. “ Alhamdlillah
sangat senang bisa lihat anak saya wisuda dan harapan saya semoga bisa
lebih pintar lagi dan sukses tentunya” tutur orang tua dari Fadila Nur Wahid.
Berbeda dari
pihak peserta mereka lebih mengeluhkan panasnya tempat prosesi wisuda. Menurut
mereka kipas yang disediakan panitia masih kurang. Sehingga saat disana mereka
masih kurang nyaman. “Panas banget! Koyo
ados keringet. Kipase kurang keroso” tutur M. Rizal Azizi salah satu Khotimin bin Nadri. (aca)